Media Sarana Informasi

11/30/19

Ternyata di dunia maya bebas memperbanyak menyebarkan berita dari sumber yang lainnya alias Copy-Paste

Media Online: Bebas Copy Paste

Media massa memiliki berbagai macam jenis, antara lain media penyiaran seperti televisi dan radio, dan media cetak seperti surat kabar, majalah, tabloid, dan sebagainya. Zaman semakin maju dan diikuti pula oleh kemajuan teknologi, maka dari itu media juga ikut berkembang. Muncul teknologi baru yang kita kenal dengan istilah internet, dengan munculnya internet pada tahun 1990. Teknologi internet ini menciptakan jenis media massa baru, yaitu media online.


Kemajuan teknologi membentuk manusia menjadi ingin lebih cepat dalam mendapatkan dan memenuhi kebutuhan, seperti informasi dan berita. Infomarsi dan berita yang cepat menjadikan manusia tersebut up to date, selalu mendapatkan yang terbaru dan tercepat. Gengsi menjadi timbul diakibatkan kebaruan dan kecepatan dalam mendapatkan informasi.

Tidak bisa dihindari, semua akhirnya akan mendapatkan dampak dari kecepatan dan kemudahan dari internet. Seseorang kini harus bisa bekerja dengan cepat dan tangkas untuk bisa memenuhi kebutuhan manusia. Internet menjadi salah satu media baru yang menjadikan seseorang untuk bisa mendapatkan dan memenuhi kebutuhannya. Haus akan informasi, membuat wartawan bekerja dengan cepat. Wartawan harus bisa bersaing dalam menyajikan hal yang terbaru dan harus bisa menyajikannya lebih cepat daripada yang lain. Menggunakan internet di mana pun dan kapanpun, bisa menyebarkan informasi dan berita yang mereka dapatkan kepada masyarakat.   

Internet dapat berkembang pesat dan seolah menyingkirkan media massa lain disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kemudahan seseorang untuk mengakses internet, hampir setiap orang dapat mengakses internet dimanapun dan kapanpun, yang dibutuhkan hanyalah jaringan internet dan perangkat yang bisa mengakses internet (PC, laptop, Handphone, dsb).


Kelahiran internet memang bisa dibilang ‘keajaiban’ tanpa ada batasan ruang dan waktu semua bisa mengakses kebutuhan manusia. Efek kehadiran internet, menjadikan wartawan bisa mempunyai akses yang cukup luas seperti mendalami dokumen, banyaknya data, dan arsip berita. Menulis kata kunci di internet maka akan mendapatkan sesuai dengan keinginan yang dicari.

Wartawan kini dituntut untuk bekerja ekstra keras, tidak hanya mengumpulkan tetapi juga memproduksi berita, wartawan tidak hanya sebagai jurnalis lapangan tetapi juga harus bisa sebagai editor. Secara tidak langsung memaksa wartawan harus memiliki kemampuan lebih dari satu aspek saja. Itu lah yang membedakan wartawan media konvensional dengan wartawan media online.

Multitasking atau memiliki kemampuan lebih dari satu, wartawan harus bisa mengerjakan tidak hanya menulis. Tuntutan perkembangan jaman, yang di mana semua aspek harus bisa dikuasai. Wartawan harus bisa mengembangkan kemampuannya untuk bisa menyajikan berita tidak hanya tulisan, tetapi juga menampilkan foto, ilustrasi, grafis dan video. Istilahnya seperti makanan yang disajikan harus 4 sehat 5 sempurna, untuk mendapatkan informasi yang lengkap wartawan media online harus bisa menguasai keahlian yang lainnya.

Mindy McAdams dalam persentasinya mengatakan bahwa  wartawan media online bisa menyajikan dengan lengkap dan lebih detail daripada media konvensional. Lebih dari satu platform, wartawan media online harus bisa multiplatfrom. Selain menyajikan multiplatfrom, interaksi antar media online dengan penggunanya juga dibuka selebar-lebarnya dan membebaskan untuk menyampaikan pendapatnya.

Media Online menyajikan segalanya, tidak hanya berita hard news yang singkat, padat dan jelas tetapi harus lebih detail. Media online harus bisa menceritakan semua semua bagian setiap detail yang terjadi di lapangan, keberlanjutan tiap waktu ketika terdapat data dan fakta yang muncul dan menghubungkan semua para pelaku serta aspek yang ada di lapangan.

Setiap media online terkesan berlomba-lomba dalam menyajikan berita yang lengkap namun harus bisa disajikan secara lengkap. Hal tersebut terdengar mustahil, karena dalam mengumpulkan fakta dan data yang berada di lapangan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, perlu verifikasi. Verifikasi dibutuhkan untuk bisa menyajikan berita yang benar adanya dilapangan, apabila tidak ada verifikasi dan tidak ada kebenaran yang sesuai dengan lapangan maka berita itu palsu.

Hoax, atau berita palsu karena tidak adanya verifikasi fakta dan data. Masyarakat yang membaca berita memang belum tahu mana berita yang palsu atau benar adanya di lapangan, tetapi akan timbul keresahan. Keresahan yang dirasa oleh masyarakat akibat berita palsu bisa menimbulkan efek tidak percaya dengan media yang menyebarkan berita.

Dengan keresahan yang ditimbulkan oleh hoax yang tersebar, menjadikan masyarakat sebagai pembaca menjadi lebih pintar. Pembaca kini bisa memverifikasi berita sendiri dengan mencari berita tidak hanya dari satu portal media online. Apabila ada salah satu media online selalu menyebarkan berita palsu, maka pembaca tidak akan percaya.

Disadari atau tidak, bahwa penyebaran hoax merupakan pelanggaran etika dari jurnalistik. Pelanggaran etika yang terjadi dapat dilihat dari data pengaduan masyarakat yang ditujukan kepada Dewan Pers. Data dari Dewan Pers pada tahun 2011 bahwa terdapat wartawan yang melakukan plagiasi.

Dengan banyaknya tekanan dari atas (jajaran redaksi) dan dari bawah (pembaca) untuk bisa mendapatkan dan memenuhi kebutuhan informasi, menjadi wartawan harus bekerja ekstra. Segala kesempitan dari tekanan menjadikan kesempatan hadir sela-selanya. Copy-paste­ atau bisa dibilang dengan melakukan plagiasi, menjiplak dari karya milik orang lain tanpa ada ijin atau menyematkan nama dari si pemilik karya. Wartawan menjiplak hasil karya berita dari wartawan lain kemudian diunggah ke media online di tempat mereka bekerja. Tidak perlu turun ke lapangan melakukan wawancara dengan banyak orang, hanya perlu koneksi internet melalui smartphone atau melalui komputer kemudian copy dilanjutkan paste dan akhirnya diunggah.

Kasus plagiasi yang di lakukan oleh wartawan sayangnya pengelola media tidak menganggapnya sebagai masalah yang serius, meski berpengaruh terhadap kualitas dari jurnalisme yang dihasilkan. Pers tidak bisa lagi menjalankan tugasnya secara baik dalam memberikan informasi, pendidikan dan kontrol sosial. Sudah tertulis di dalam Kode Etik Jurnalistik pasal 2 poin G, bahwa wartawan tidak boleh melakukan plagiasi, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri.

Sebenarnya dalam kasus plagiasi juga bisa dialami dalam dunia akademi. Maka tak perlu diherankan, kasus plagiasi bisa masuk ke dalam ranah produksi informasi dan berita. Di kutip dari bandung.bisnis.com, Arfi Bambani dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia megatakan bahwa karya jurnalisti mengindikasikan penurunan kualitas wartawan dan tidak adanya penerapan hukum yang tegas. Kasus plagiasi tidak ada lagi dalam ranah kode etik jurnalistik. Penjiplakan ini sudah masuk ke dalam ranah hukum dan harus diselesaikan.

 Menurut Arfi hasil karya dari wartawan sudah dijamin dalam Undang-undang Hak Atas Kekayaan Intelektual Nomor 12/2012. Di dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta adalah hak eksklusif dari pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku.

Dia juga menambahkan bahwa dalam Kode Etik AJI nomor 14, menyebutkan bahwa wartawan dilarang untuk melakukan plagiasi. Pengutipan fakta dari sebuah karya tulis harus dicantumkan siapa penulisnya dan media apa jika itu karya yang dipublikasikan sebuah media massa. Pelanggaran dalam penjiplakan bisa secara pidana dan perdata.

Kasus plagiat yang dilakukan oleh wartawan terjadi di situs resmi Bisnis Indonesia Sumatera (www.bisnis-sumatra.com) telah dikutip dan kemudian dijiplak secara keseluruhan oleh sebuah media online tanpa menyebutkan sumber berita dan nama jurnalis sebagai pemilik karya. Berikut beberapa artikel yang dijiplak :

1. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/bei-bidik-3-perusahaan-sumut-jual-saham-ke-pasar-modal/

2. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/hajatan-ipo-coffindo-masih-dikaji/

3. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/hipmi-sumut-dorong-pengusaha-daftar-di-pasar-saham/

4. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/hipmi-sumut-krisis-gas-di-sumut-sudah-ancam-industri/

5. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/pengusaha-sumut-lega-pertamina-tambah-pasokan-gas/

6. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/hipmi-sumut-krisis-gas-di-sumut-sudah-ancam-industri/

Selain kasus di atas juga terdapat kasus yang dilakukan oleh salah satu tabloid yang berada di Madura melakukan plagiasi dari tulisan Taufiqurrahman Kontributor Media Online kompas.com yang dimuat pada edisi September 2014. Dikutip dari maduracorner.com, tulisan yang berjudul “Heboh, Ular Berkepala Manusia Dikeringkan” tersebut diambil dari judul aslinya yang berjudul “Ular Berkepala Manusia Hebohkan Warga Pamekasan” yang telah dimuat pada tahun 2012 oleh Taufiqurrahman.

Di dalam artikel maduracorner.com, Taufiqurrahman sempat menanyakan jajaran redaksi dari Tabloid Faktual. Ketika ditanyakan bahwa jajaran redaksi tabloid itu mengelak melakukan plagiasi, namun ketika dijelaskan bahwa tersebut merupakan tulisannya akhirnya yang bersangkutan mulai melunak. Taufiq juga sempat menanyakan apakah motif dari pemuatan tulisannya tersebut karena berita yang dijiplak sudah dua tahun yang lalu.

Tidak hanya itu saja, kasus penjiplakan juga pernah dilakukan oleh suratpembaruan.com dan beritasatu.com. Dua artikel yang dijiplak dari dua portal media online berasal dari tabloidjubi.com. Artikel pertama yang dijiplak adalah berjudul “Bambang Dharmono: Perlu Ada Afirmative Action Ke OAP” dan artikel yang kedua “2012, 12 Kasus Kekerasan Terhadap Jurnalis di Papua”. Memang dalam kasus ini berbeda dengan dua kasus sebelumnya yang sama persis dengan tulisan yang dijiplak, namun penerbitan dua artikel ini dilakukan tanpa ijin atau pemberitahuan kepada tabloidjubi.com.

Untuk kasus artikel tabloidjubi.com yang mirip dengan artikel di suarapembaruan.com dan beritasatu.com, dalam waktu yang berbeda, telah memberikan surat kepada kedua media tersebut yang intinya menyampaikan komplain. Komplain yang disampaikan adalah kedua situs tersebut melakukan penyebaran berita tersebut tanpa ijin dan pemberitahuan kepada pihak tabloidjubi.com serta tidak mencantumkan sumber berita aslinya.

Dari ketiga kasus copy-paste yang dilakukan oleh wartawan belum ada sanksi yang diberikan kepada pelaku. Sanksi yang seharusnya yang didapatkan oleh wartawan ketika terbukti melakukan plagiasi adalah berhenti menjadi wartawan. Hal tersebut disampaikan oleh Atmakusumah Astraatmadja di dalam artikel lpds.com, menurutnya ketika wartawan terbukti melakukan pelanggaran kode etik membuat kualitas dari karya jurnalistiknya dipertanyakan.

Melihat makin maraknya kasus copy paste menghasilkan kritikan bahwa Indonesia plagiasi menjadi sebuah hal yang ‘wajar’ dalam dunia jurnalistik. Di dalam Undang-Undang No 19 Tahun 2002 yang mengatur hak cipta tertulis di pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa hak cipta adalah hak ekslusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sesuai dengan kode etik jurnalistik, wartawan harus berbuat jujur dalam menyebarkan informasi dan berita. Sangat disayangkan memang ketika masih ada wartawan yang melakukan copy paste dan yang terbukti melakukannya tidak mendapatkan sanksi yang tegas terhadap tugas yang sudah dilakukannya. Sanksi yang tegas dan jelas yang diberikan kepada wartawan akan memberikan efek jera.

 

 

artikel terkait:

http://bandung.bisnis.com/read/20130603/34239/373661/plagiarisme-jiplak-tulisan-jurnalis-bisa-dipidana

Sumber : kompasiana.com
Share:

Definition List

Unordered List

Advertising

About Me

Email : advmedsos@mediacompersada.com