BEST PRACTICE Dadang A. Sapardan(Kabid Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

BEST PRACTICE

Bandung Barat, mediacompersada.com - Selama empat hari berkesempatan mengikuti rapat koordinasi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Di sela-sela rapat sempat bertemu dengan seorang teman semasa kuliah yang bekerja di Kemendikbudristek. Karena sudah begitu lama tidak bertemu, dalam kesempatan istirahat digunakan untuk ngobrol banyak tentang berbagai hal, baik yang ringan, maupun yang berat. Obrolan yang sangat berkesan terkait dengan program yang digagas dan diimplementasikan oleh kementerian. Arah obrolan membahas tentang tampilan profil pelajar Pancasila yang saat ini menjadi muara berbagai kebijakan di negeri ini. Cukup hangat obrolan yang dibangun karena mengarah pada dari mana harus membangun tampilan profil pelajar Pancasila yang menjadi visi pendidikan Indonesia saat ini.


Kehidupan abad ke-21 yang tengah dijalani, ditandai dengan masuknya pada era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0. Fenomena kehidupan abad ke-21 telah menstimulasi terjadinya berbagai perubahan dan pembaruan pada berbagai tatanan kehidupan yang mengarah terhadap upaya peningkatan harkat dan martabat bangsa. Berbagai upaya untuk melakukan perubahan atas kebijakan dengan konsentrasi terhadap fenomena yang terjadi, terus dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Langkah demikian diupayakan agar seluruh komponen bangsa tidak tertinggal serta dapat sejajar, mampu bersaing, dan memiliki daya tawar yang tinggi dalam percaturan kehidupan dengan bangsa lain. Setiap bangsa harus survive dalam percaturan kehidupan dunia, termasuk juga bangsa Indonesia.


Upaya mencapai tujuan tersebut tidak dapat dilakukan dengan penerapan gagasan kebijakan yang serampangan tanpa kematangan pertimbangan, apalagi hanya sebatas gagasan di atas kertas. Namun, harus dilakukan dengan gagasan yang benar-benar akuntabel serta dapat diimplementasikan oleh setiap unsur terkait. Dengan kematangan dan implementasi gagasan, dimungkinkan dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Tampilan sumber daya manusia berkualitas dengan kepemilikan berbagai kompetensi yang sesuai dengan fenomena kekinian dan kemasadepanan, merupakan sosok yang diharapkan dapat berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara, serta lebih jauh lagi dapat berkompetisi dangan bangsa-bangsa lain.


Kesadaran akan kebutuhan sosok sumber daya manusia berkualitas ini mendapat respons dari pemegang otoritas kebijakan pendidikan, Kemendikbudristek. Dengan kewenangan yang dimilikinya, Kemendikbudristek merilis visi pendidikan Indonesia dengan capaian pada tampilan profil pelajar Pancasila. Lahirnya visi pendidikan Indonesia tersebut menjadi lompatan strategis sebagai upaya memenuhi kebutuhan kekinian dan kemasadepanan.
Visi pendidikan Indonesia mengarahkan pada upaya mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebhinekaan global. Secara kasat mata, visi pendidikan Indonesia merupakan kebijakan yang didasari oleh fenomena kehidupan abad 21 dengan warna era revolusi industri 4.0 serta era masyarakat 5.0.
Sejak lama dipahami bahwa pendidikan harus berada pada posisi paling depan dalam upaya menjawab tantangan perubahan kehidupan. Pendidikan menjadi leading sektor penyiapan sumber daya manusia yang mampu berkompetisi dengan kepemilikan kompetensinya. Karena itu, kebijakan yang diterapkan dalam menyikapi keberlangsungan fenomena kehidupan ini adalah penerapan kebijakan pendidikan prospektif yang didasari ketidakabaian terhadap kehidupan abad ke-21 dengan era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 sebagai bagian dari dinamikanya.


Muara capaian kebijakan profil pelajar Pancasila yang diterapkan oleh Kemendikbudristek adalah jutaan satuan pendidikan yang berada di garis depan. Dalam kapasitas sebagai unit teknis yang bersentuhan langsung dengan peserta didik sebagai core kebijakan pendidikan, setiap satuan pendidikan dituntut untuk responsif akan berbagai kebijakan aktual yang diterapkan oleh Kemendikbudristek. Setiap satuan pendidikan harus mampu menerjemahkan konsep yang kadang tersaji dengan abstrak menjadi berbagai program teknis yang realistis sehingga dapat diimplementasikan oleh satuan pendidikan.
Dalam konteks ini, pemahaman yang harus dibangun oleh setiap satuan pendidikan adalah bagaimana mengimplementasikannya melalui berbagai program yang dapat menyokong capaian profil pelajar Pancasila. Program-program yang disusun oleh satuan pendidikan menjadi senjata utama yang dapat mengarahkan pada capaian target melahirkan peserta didik dengan tampilan seperti yang tertuang dalam profil pelajar Pancasila. Salah satu implementasi yang mungkin dilakukan adalah pemberian keteladanan dari seluruh warga satuan pendidikan lainnya, sehingga seluruh peserta didik memiliki acuan riil yang menjadi best practice dalam kaitan dengan profil pelajar Pancasila.


Pemberian keteladanan sangat penting diimplementasikan dalam upaya mempermudah keterlahiran profil pelajar Pancasila pada setiap peserta didik. Keteladanan merupakan penanaman sikap dan perilaku positif melalui tampilan best practice oleh pihak-pihak tertentu. Pemberian keteladanan melalui best practice dalam konteks satuan pendidikan tentunya harus ditampilkan oleh kepala satuan pendidikan, pendidik, tenaga kependidikan, serta warga satuan pendidikan lainnya.


Keteladanan melalui best practice dimungkinkan menjadi strategi tepat dalam mempengaruhi peserta didik untuk mengembangkan potensinya sehingga mengarah pada capaian profil pelajar Pancasila. Keteladanan yang ditampilkan dalam ekosistem satuan pendidikan akan besar berpengaruh terhadap bertumbuh dan berkembangnya peserta didik. Keteladanan yang diperlihatkan oleh warga satuan pendidikan lainnya menjadi refleksi bagi setiap peserta didik, sehingga mereka memiliki best practice yang layak ditiru.
Pemberian keteladanan melalui best practice ini merupakan strategi baik dalam upaya mendorong keberlangsungan program sehingga tidak hanya sebatas program yang disodorkan kepada peserta didik semata. Program ini harus mendapat support dari berbagai pihak melalui kebersamaan seluruh warga satuan pendidikan dalam melahirkan sosok berprofil Pancasila. Dengan kata lain, tampilan sosok profil Pancasila tidaklah parsial untuk peserta didik saja, tetapi harus menyeluruh untuk seluruh warga satuan pendidikan, terutama kepala satuan pendidikan, pendidik, dan tenaga kependidikan.


Alhasil, untuk mencapai tampilan profil pelajar Pancasila, tidak hanya dapat diimplementasikan pada program-program parsial bagi peserta didik saja. Semua warga satuan pendidikan harus mampu menampilkan best practice sebagai sosok berprofil Pancasila. Bentuk keteladanan inilah yang dapat menjadi bagian dari upaya pelahiran profil pelajar Pancasila.**** Narasumber : Disdikkbb by bidangsmp. Bookmark the permalink. Pewarta : DaSsarr IINews Jabar. Editor Red : GG.XXX

Posting Komentar untuk "BEST PRACTICE Dadang A. Sapardan(Kabid Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)"